Tunas muda yang berusaha menjadi dewasa

Tunas muda yang berusaha menjadi dewasa

Wednesday, 2 April 2014

Apa itu kebenaran??

Kau tahu hakikat membaca itu apa?
Apa pernah terlintas di pikiran, hakikat menulis itu apa?
Yap. Kali ini aku tidak terlalu menyesal meninggalkan kuliah siang kemarin demi ikut seminar tentang 'Revolusi Spiritual'. Di sana, kita membahas banyak tentang kebenaran, intuisi, dan akal.
        Kita mulai dengan pertanyaan awal. Apakah kebenaran bisa dipahami dengan akal?
        Apakah fungsi pengetahuan itu?
        Untuk apa kita belajar dan mencari ilmu pengetahuan? Sebenarnya apa yang kita cari?
 
1) Kebenaran
    Kebenaran adalah hak Allah. Bahkan setiap orang punya parameter kebenaran masing-masing. Itupun hak Allah. Yang pasti, kebenaran tidak bisa hanya kita cari menggunakan akal. Sangat tidak cukup jika kita menggunakan akal, karena kekuatan dan kemahabesaran Allah tidak akan pernah bias dipahami manusia seutuhnya, atau kita menjadi gila karena akal kita tidak mampu melampaui 'pengetahuan tentang Allah'. Lantas untuk apa Allah menciptakan akal? Jawabannya adalah untuk "membedakan yang buruk dengan yang baik". Pada hakikatnya, manusia yang sempurna adalah manusia yang hidup antara dua tarikan, yaitu tarikan AKAL dan HATI.
AKAL untuk "tidak menginginkan yang buruk"
Sedangkan HATI untuk "menginginkan yang baik" 
Hei. Mungkin ada yang bertanya-tanya. Lalu apa yang dimaksud dengan NAFSU? berkaitan dengan kedua hal di atas. Sesungguhnya NAFSU adalah lawan dari AKAL. Nafsu diciptakan untuk menginginkan keburukan, sedangkan akal diciptakan untuk menginginkan kebaikan. That's the point. Jika begitu, maka parameter kebenaran akan jelas sekarang. dalam memahami semua yang ada di dunia ini, kita tidak cukup menggunakan logika/akal . kita juga perlu hati yang bersih untuk memahami pesan Allah di setiap peristiwa yang kita temui di dunia ini.
 
*Hidup tidak cukup hanya sekedar 'tidak ingin melakukan yang buruk'. Tapi hidup akan sempurna jika kita 'ingin melakukan yang baik'. Itulah fungsi akal dan hati. Pada dasarnya, manusia yang sempurna adalah manusia yang bias hidup diantara tarikan akal dan hati.
 
Sepertinya pembahasan ini belum cukup, masih ada satu hal lagi yang patut kita garis bawahi.
Jika nilai-nilai kebaikan terletak pada akal dan hati manusia, maka dapat kita bayangkan bahwa sebenarnya sampai kapanpun, manusia akan sampai pada titik pemahaman yang sama tentang kebaikan dan keburukan-bukan kebenaran-. Terlepas dari background apapun, manusia secara universal akan dapat memahami nilai-nilai kebaikan yang sama. Ya, jadi 'bukan' tidak mungkin jika seharusnya di bumi ini tidak ada pertumpahan darah, tidak ada penindasan, tidak ada kedzaliman, tidak ada peperangan. Karena hakikatnya kita sama-sama paham bahwa semua itu adalah hal yang buruk. Jika kita kaitkan dengan agama, maka pertanyaan paling mendasar yang harus kita jawab adalah, 'apakah ada agama yang mengajarkan keburukan?pertumpahan darah?', sesungguhnya tidak ada-kecuali jika ada penyelewengan pemahaman tertentu-. Inilah yang disebut dengan HUMANITY(kemanusiaan). Saya pikir, semua manusia di dunia juga sepakat, jika saudara-saudara kita di Palestina adalah korban keserakahan pihak-pihak tertentu yang harus kita bantu.
Ya, tidak ada alasan perbedaan 'apapun' dalam menegakkan 'nilai-nilai kemanusiaan' di dunia ini. Titik.
 
2) Definisi Ilmu Pengetahuan
   
Apakah membaca itu?
Membaca adalah menerjemahkan hal-hal yang dhohir untuk mencari hal-hal yang bersifat batiniah.
Sedangkan menulis adalah menerjemahkan hal-hal yang bersifat batiniah menjadi hal-hal lahiriah   (dhohir) sehingga dapat dipahami manusia.
 
Dua tahapan ini sering dilakukan manusia untuk mencapai satu tujuan yang mulia, yaitu mengenal, dan mencari kebenaran. Maka ilmu pengetahuan adalah suatau metode empiris yang bisa dilakukan manusia untuk mencari nilai-nilai ketuhanan, untuk memahami keesaan Allah dan mengenal Allah. Ya, ilmu pengetahuan sering disandarkan dengan logika/akal. Padahal itu salah kaprah. kita tidak akan semakin dekat dengan Allah jika ilmu yang kita cari hanyalah ilmu-ilmu yang bersifat empiris(dhahir). Sekali lagi akal manusia tidak akan cukup untuk memahami semua ciptaan, dan keesaan Allah di dunia ini. Bagaimana bisa seorang ilmuan menjelaskan tentang teori penciptaan langit?Sesungguhnya jika kita memercayai teori-teori yang mereka sampaikan, maka kita juga telah menanggalkan logika kita. Apakah kemudian kamu pernah memastikan 'sendiri' bahwa sebenarnya penciptaan langit terjadi karena adanya tumbukan dahsyat antara dua materi berenergi besar? Tentu tidak pernah. Kita begitu saja percaya pada ilmuwan bahwa teori penciptaan bumi adalah seperti yang mereka ucapkan. Tidak ada bukti empiris di sana. Kita begitu saja percaya pada mereka. Itu artinya kita telah menanggalkan hakikat ilmu pengetahuan yang sebenarnya. Ya, sekali lagi, dalam mencari kebenaran, kita tidak bisa menggunakan akal saja. Kita juga tidak bisa memaksakan mencari bukti empiris dari segala hal yang terjadi di dunia ini.
 

No comments:

Post a Comment