Tunas muda yang berusaha menjadi dewasa

Tunas muda yang berusaha menjadi dewasa

My Story

Di sana, kutahu arti sebuah penilaian. Penilaian bukanlah parameter kesuksesan, melainkan ia adalah jalan untuk mencapai kesuksesan itu sendiri.
15 Maret 2012
 Aku hanya manusia biasa, tak punya apa-apa. Tapi aku punya mimpi menjadi makhluk Tuhan yang bisa masuk surga.
“Apakah kamu mengira kamu akan masuk surga padahal belum datang kepadamu cobaan berat seperti orang-orang terdahulu. Hingga merekapun sampai berkata ‘kapan datang pertolongan Allah?!’...”
Apakah itu berarti aku harus melalui berbagai cobaan yang diberikan Allah dulu yang seberat-beratnya baru bisa masuk surga?
            Waktu itu aku jawab “iya”. Lagi pula aku sangat bersyukurmerasa belum pernah mendapat cobaat sangat berat sejauh ini, dan aku merasa saat itulah waktu yang paling tepat di mana aku masih punya banyak waktu untuk bersiap-siap jika badai cobaan dari Allah itu datang. Aku merasa sudah cukup baik membangun benteng pertahanan yang kuat jika lagi-lagi ujian Allah itu datang. Sombong sekali bukan, aku waktu itu? Astaghfirullah...
Ternyata aku salah besar, faktanya ketika cobaan itu datang. Aku bahkan sampai lupa bahwa aku punya Allah. Aku lupa bahwa ‘Allah adalah prasangka hambanya’. Aku lupa bahwa masa depan adalah apa yang sudah kita pikirkan sebelumnya. Aku lupa bahwa nilai yang kudapat dari hasil ujianku adalah adalah bukan segalanya, dan aku juga lupa bahwa aku harus bersyukur menghadapi cobaan ini demi bisa memiliki surgaMu.
Yah, dalam segala tahapanku mempersiapkan diri, pagi ini aku benar-benar bersyukur,  ternyata memang benar bahwa kunci segala masalah adalah ikhlas, seperti yang sering dikatakan teman-temanku dari buku yang telah dibaca mereka “Quantum Ikhlas”, sejak itu aku bertekad harus membaca buku itu.
Kulalui berbagai tahapan ujian akhir sekolahku dengan segala usaha mengendalikan hatiku agar ‘ikhlas’ mengerjakan semua tahapan-tahapan panjang itu. Finally kata Pak Ilham nilai fisikaku termasuk 10 besar. Apa aku tidak boleh senang?! Itu dari dulu yang kuinginkan. Akupun sadar, inilah buah dari ikhlas itu sendiri. Yeah! The Power of IKHLAS is Working!
Waktu dzuhurpun tiba dan kebahagiaan yang kurasakan sebelumnya mendadak hilang.
Umi Atik tiba-tiba memanggilku dari belakang. Wajahnya pias dan beliau tersenyum masam. Ternyata nilai Bahasa Indonesiaku jelek, pikirku. Iya, kutanyakan apa benar dugaanku. Beliau hanya tersenyum dan berkata, “Apa kamu tidak yakin dengan jawabanmu kemarin?”
Aku tersentak dan sadar. Aku harus belajar ‘Ikhlas’ lagi!


No comments:

Post a Comment