Kesasar masuk Pertanian?? Siapa takut ^0^
Jika ditelusuri lebih lanjut, banyak sekali cerita unik tentang latar belakang teman-teman masuk Fakultas Pertanian :
1. Atas permintaan orang tuanya, si anak sengaja diarahkan masuk ke Fakultas Pertanian. Biasanya yang begini karena orang tuanya bekerja di Dinas Pertanian, atau semacamnya.
2. Ada juga yang begini, sengaja pilih Fakultas Pertanian karena passing gradenya dinilai gak terlalu tinggi. Hmm..
3. Apalagi ini, “tidak peduli masuk Fakultas dan Jurusan apa, yang penting kuliah di UGM”.
4. “Fakultas Pertanian itu pilihan ke-dua. Sebenarnya aku pengen masuk Teknik/lainnya”, yang begini ini buanyak banget.
5. “Aku masuk Fakultas Pertanian karena suka banget sama bunga dan tanaman”, sebenarnya yang begini juga banyak.
6. Masih ada lagi, “Seorang pemenang adalah seseorang yang mampu melihat masalah sebagai peluang, dan aku melihat sektor pertanian adalah sektor yang paling sering bermasalah akhir-akhir ini. Itu sebabnya aku masuk Fakultas Pertanian”. Ceritanya dia mau memperbaiki keadaan. Alhamdulilah..
7. Terakhir yang paling unik, “Aku masuk Pertanian karena salah klik pas registrasi on line”. Gubrak!
Baiklah, termasuk yang mana alasan teman-teman masuk Pertanian? Tidak ada yang tahu. Maka langsung saja untuk teman-teman yang mungkin termasuk salah satu di atas, mari segera lanjutkan membaca.
Jadi harus bagaimana sekarang??
Oke, di bawah sini saya akan uraikan sedikit pertimbangan untuk anda :
Sayang Umur
Baiklah, untuk teman-teman yang merasa Fakultas Pertanian tidak sesuai dengan pashion anda, maka bersabarlah untuk satu tahun ini. cobalah untuk menikmati rutinitas kampus dulu. Segera belajar untuk menyesuaikan diri dengan suasana kampus. Kemudian untuk memenuhi panggilan hati anda, silahkan mencoba mengikuti tes SBMPTN lagi tahun depan.
Jika anda diterima, maka congratulations! Mungkin pashion anda benar-benar di sana. Tapi jika anda tidak diterima, maka pilihan selanjutnya tetap di tangan anda. Apakah anda ingin mencoba tes lagi tahun depan atau tidak?Tergantung anda. Namun sekali lagi saya ingatkan, umur anda akan terus berjalan maju walau anda mencoba mengulang mundur perjalanan hidup anda di dunia perkuliahan. Untuk itu, jika anda menunda memulai dengan serius apa yang ada dihadapan anda sekarang, maka sidik jari kesuksesan andapun akan tertunda. Walaupun sebenarnya, cepat tidaknya kita sukses tetap kembali ke diri masing-masing.
Karena sukses lebih cepat, lebih baik
Langsung saja, jika anda sudah mulai start lebih awal tentu kesuksesan akan lebih cepat menjemput anda. Jelas sekali, jika anda lulus kuliah setahun saja lebih cepat dari biasanya, maka anda punya kesempatan lebih banyak untuk menebar manfaat dan kebaikan sesegera mungkin. Apalagi untuk keluarga, mereka akan lebih cepat anda bahagiakan dengan kesuksesan anda. Makanya, ayo fokuskan diri. Segera fokus dengan apa yang ada di hadapan anda sekarang, seperti fakta bahwa anda adalah mahasiswa Fakultas Pertanian.
Tapi ingat!
Success is NOT the key to happiness, happiness is the KEY of success. If you LOVE what you are doing, you will be SUCCESSFULL. ~Albert Schweitzert~
Jadi mari kita belajar mencintai Pertanian
Fokus pada saat ini
Quote:"Seorang pria yang bisa menyetir dengan aman sementara mencium gadis cantik, sebenarnya tidak memberi penghargaan yang layak untuk ciumannya itu."
Einsten kok ngomongin tentang ciuman ya? Ah, itukan hanya istilah saja. Pengertian yang bisa disimpulkan dari kalimat di atas adalah “seseorang bisa melakukan banyak hal, tapi tidak semua hal sekaligus”.
Belajar untuk ‘berada di sini, saat ini, saat anda keterima sebagai mahasiswa Fakultas Pertanian’, berikan perhatian anda kepada apa yang seharusnya anda kerjakan. Ingat, Energi terfokus adalah sumber kekuatan. Sekali lagi, tidak terlena dengan masa lalu.
Kesenangan pribadi vs Kesenangan Orang tua
Cerita ini dikutip dari kisah seorang dokter spesialis bernama Hafid Algistrian. Dr. CHt.
“Sekarang saya sedang UAS spesialis di semester nol, alias semester kuliah umum. Kabarnya, siapa yang tidak lulus semester nol ini hanya akan diberikan kesempatan satu kali mengulang. Lebih dari itu pupus sudah impiannya sebagai dokter spesialis.
Wajar dong, mau ngga mau, suka ngga suka, kita mati-matian berjuang di sini. Ada juga sih yang santai, menunggu jawaban dari kawan sebelah, sementara dia sendiri belajar sebisanya. Ada pula kawan kami yang tidak belajar sama-sekali, karena harus ngurus suami dan anak-anaknya, serta segala macam tetek bengek keluarganya.
Saya termasuk salah satu di antara mereka. Bukan, bukan. Saya bukan sedang ngurusi isteri dan anak-anak saya. Saya masih bujang. Dan beberapa pekan terakhir harus sesering mungkin pulang kampung mengunjungi ibu yang sedang kurang sehat.
Saya kos di Surabaya. Ibu di rumah Gresik. Perjalanan kos-rumah hanya menempuh satu jam. Bisa lebih-bisa kurang. Namun namanya juga capek, nyampe rumah ya pinginnya tidur. Yang saya lakukan di rumah hanya duduk di sebelah ibu, mendengarkan ceritanya, sambil saya pijit sana-sini. Kadang saya menyimak. Kadang juga tidak. Seringnya sliyut saking ngantuknya.
Walhasil, planning belajar tentu saja berantakan. Ala kadarnya saja, baca soal, sekali melirik diktat, selebihnya tidur. Besoknya harus berangkat pagi-pagi lagi ke Surabaya. Siangnya ujian.
Dan Anda tahu, Kawan?
Sebagian besar soal-soal lawas dikeluarkan kembali. Apa yang saya baca malemnya, selalu keluar esoknya. Alhamdulillaaah.. Sesekali soal baru yang saya ngga tau teorinya, saya bisa jawab. Entah itu multiple choice atau essay. Anda boleh sebut itu kebetulan aja, atau cuma keberuntungan yang kebetulan lewat. Kalau kebetulan itu terjadi berulang-ulang? Masihkah disebut kebetulan? Tidak ada kebetulan yang terjadi berulang-ulang. Lagipula, tidak ada kebetulan di dunia ini. Kata Einstein, Tuhan tidak bermain dadu terhadap alam semesta.
Ataukah keberuntungan? Ya, ini lah yang ingin saya katakan. Keberuntungan. Anda boleh mengatakan ini hanyalah keberuntungan yang kebetulan lewat. Lalu, orang yang berulang kali mendapat keberuntungan dikatakan “emang sejak lahir dia pembawa HOKI, masbroo..”
Saya bilang, keberuntungan bisa diciptakan. Dan sekarang kita sedang membahas The Law of Harvest. Hukum Tabur Tuai. Apa yang kita tabur, kita tuai.
Anda tahu, dalam hati saya mengeluh. Tiap hari harus bolak-balik dari kampung-Surabaya. Saya tidak bilang saya tidak ikhlas. Saya berusaha ikhlas. Meski godaan nggrundel datang setiap saat. Kalau saya nggrundel, mijit orang jadi seenaknya. Ibu saya mungkin tak sesegar sekarang.
Saya pun baru sadar sekarang. Bahwa apa yang ditabur, pasti dituai. Dimana ditabur, di situ di tuai. Dan saya sedang menuai ridho ibu. Anda pasti tahu, ridho orang tua ridhonya Allah juga. Akhirnya semua bisa berjalan baik, dan di sinilah rejeki saya.
Anda hanya perlu menebarkan kebaikan. Kepada siapa? Siapa saja. Baik orang yang menyenangi Anda, atau menyakiti Anda. Kapan? Kapan saja, saat lapang maupun sempit. Dimana? Dimana saja Anda berada.
Jadi sudah tidak khawatir lagikan? Tidak perlu galau lagi buat maba yang masuk Fakultas Pertanian karena permintaan orang tuanya. Percayalah, bahwa permintaan Orang tua adalah yang terbaik untuk kita. Restu orang tua adalah restu Allah bukan?
Karena tidak ada kebetulan di dunia ini
* “Tidak ada kebetulan di dunia ini. Tidak pantas bagi orang2 yang beragama bilang kebetulan. Karena segala sesuatu sudah ada dalam skenario maha sempurna.
* Jadi, orang2 yang kita temui, kejadian2 yang kita lewati, tempat2 yang kita kunjungi, itu semua adalah skenario. Jalani sebaik mungkin, lewati selapang mungkin, luruhkan semua kecewa. Sisanya serahkan pada yang maha memiliki skenario“ ~Tere Lije~
* “Tuhan tidak bermain dadu terhadap alam semesta!”~Einsten~
Baiklah, mari kita sejenak berfikir. Ada 3 hal di bawah ini yang mungkin sedang menghinggapi perasaan anda (bagi yang merasa’):
1. Anda telah diterima menjadi mahasiswa di Fakultas Pertanian
2. Anda merasa pashion anda tidak di sini, melainkan di Fakultas lain. (Mungkin?)
3. Tangan Tuhan selalu ada dalam setiap urusan anda.
Jadi begitulah, tiga hal di atas tentu saling berkaitan. Ketika dalam usaha anda berjuang di SBMPTN kemarin, anda justru diterima di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada(bukan universitas lain), maka itu sama sekali bukan kebetulan. Pasti ada campur tangan Allah di sana. Bisa saja melalui takdir tersebut, Allah sebenarnya ingin berkomunikasi dengan kita dengan cara-caraNya sendiri. Tentu saja karena Allah sedang berusaha memberi kita petunjuk akan tempat yang tepat untuk kita.
“Sometimes things happen for a reason., even we dont know what it is”
No comments:
Post a Comment